Analisis Perkembangan Harga Komoditi
Senin, 26 Juli 2010
Harga Beras Terus Naik
Perum Bulog menyatakan bahwa persediaan Beras masih mencukupi, namun sampai saat ini harga Beras terus naik. Di Jakarta, harga Beras jenis premium yang saat ini mengalami kenaikan Rp 700-800/kg. Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga adalah hasil panen belum masuk ke pasar dan terdapat beberapa lahan panen yang terserang hama. Selain itu, para petani saat ini sudah dapat menentukan harga Beras. Pihak pedagang menyambut baik adanya operasi pasar (OP) yang dilakukan pemerintah untuk kenaikan harga Beras.
Kementerian Perdagangan RI mengakui ada kenaikan harga Beras. Untuk Beras premium eceran, kenaikan harga sekitar Rp 700-800/kg, sedangkan Beras medium kenaikannya sekitar Rp 300-500. Sampai saat ini, OP Beras telah dilaksanakan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Papua. Beberapa daerah seperti Banten, Sumatera Utara, dan daerah lainnya sudah dalam persiapan pelaksanaan.
Sementara itu, persediaan Beras di PIBC sampai 22 Juli mencapai 30.464 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta 10 hari ke depan. Pasokan Beras di PIBC pada 22 Juli 2010 mencapai 3.086 ton, lebih tinggi 224 ton dari pasokan sehari sebelumnya sebesar 2.862 ton dan juga lebih tinggi dari rata-rata pasokan bulan Juni sebesar 2.507 ton.
Ketua Operasi Pasar Perum Bulog Subdivre Bandung, Uli Siregar menyatakan saat ini pelaksanaan operasi pasar belum maksimal karena masih belum banyak masyarakat yang mengetahui pelaksanaan operasi pasar. Berikut daftar harga Beras di PIBC, per 24 Juli 2010: Beras Cianjur Kepala: Rp 8.500; Beras Cianjur Slyp: Rp 7.800; Beras Setra: Rp 8.200 Beras Saigon: Rp 7.600; Beras Muncul I: Rp 6.700; Beras Muncul II: Rp 6.200; Beras Muncul III: Rp 5.700; IR-64 I: Rp 6.750; IR-64 II: Rp 6.250; IR-64 III: Rp 5.600; IR-42: Rp 9.000; Ketan Putih Biasa: Rp 9.500; Ketan Putih Paris: Rp 11.350; dan Ketan Hitam: Rp 13.000
Harga Lada Masih Tinggi
Harga Lada terus meningkat cukup signifikan sejak awal bulan ini. Pada tanggal 1 Juli 2010 lalu, harga Lada masih berada di level Rp 43.000 per kg dan sejak akhir pekan lalu harga Lada tetap di level Rp 48.500 per kg. Harga Lada rata-rata mingguan pada minggu lalu juga merupakan yang paling tinggi sepanjang tahun ini, yaitu Rp 46.700 per kg. Level Rp 40.000-an ini sudah tidak turun lagi sejak akhir Maret 2010 silam. Lada putih merupakan komoditas utama Bangka dan Belitung yang terkenal ke seluruh dunia. Pelabuhan Muntok di Bangka sebagai pintu ekspor akhirnya dikenal sebagai merek Lada putih berkualitas, yaitu Muntok White Pepper.
Namun, meningkatnya kebutuhan Lada putih Bangka Belitung tersebut tidak diimbangi dengan upaya pengembangan perkebunan Lada. Keadaan saat ini areal perkebunan Lada di Bangka dan Belitung berkurang karena menjadi lahan tambang Timah atau kebun Kelapa Sawit. Data Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan luas perkebunan Lada di Bangka Belitung terus berkurang. Petani Lada banyak yang beralih menjadi petani Kelapa Sawit karena tanaman Sawit aman terhadap penyakit tumbuhan, sedangkan Lada rentan penyakit kuning dan penyakit busuk pangkal batang.
Di Bengkulu, harga Lada hitam bertahan Rp 25.000 setelah sebelumnya naik Rp 1.000 per kilogram, sedangkan harga di sentra produksi Kepahiang juga bertahan Rp 26.000 per kilogram. Bertahannya harga Lada hitam itu, karena permintaan dari pedagang besar pekan ini berimbang dan persediaan dari petani masih seperti biasa. Lada hitam di Bengkulu diperoleh dari beberapa sentra produksi, antara lain di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur, dan permintaan paling tinggi dari pedagang besar dari Medan dan Sumbar.
Sementara harga Lada putih itu bertahan Rp 52.500 per kilogram dan sampai sekarang masih didatangkan dari Provinsi Bangka Belitung melalui daerah Sumsel, kemudian pedagang daerah itu mEmasarkan ke pedagang besar di Bengkulu. Areal perkebunan Lada mencapai 10.254 hektar dengan produksi 4.110,54 ton per tahun, yang tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Kabupaten Bengkulu Selatan 272 ha, Rejang Lebong 278 ha dan Kaur 4.748 ha serta Kabupaten Mukomuko 234 ha.
Kontrak Berjangka Emas Naik
Kontrak berjangka Emas mengalami kenaikan dalam tiga hari berturut-turut akibat adanya spekulasi kemungkinan stimulasi pertumbuhan AS serta menambah daya tarik logam mulia sebagai aset alternatif. Kontrak Emas untuk pengiriman Agustus di COMEX New York mengalami kenaikan 0,4% atau US$ 4,60 menjadi US$ 1.200,20 per troy ounce. Dengan demikian harga Emas sudah mengalami kenaikan 1% sepanjang minggu ini. Kondisi serupa terjadi pada kontrak harga Emas untuk pengiriman bulan terdekat di London yang ditutup dengan kenaikan 0,5% di level US$ 1.201.
Sepanjang tahun ini, harga kontrak Emas berjangka sudah mengalami kenaikan sebesar 9,1% tahun ini dan berada pada rekor tertinggi di level US$ 1.266,50 per troy ounce pada tanggal 21 Juni 2010 lalu. Adanya pembelian besar-besaran terhadap Emas dalam beberapa hari terakhir merupakan indikator yang baik terhadap investasi Emas. Harga Emas diprediksi akan terus mengalami kenaikan harga karena perekonomian AS saat ini mengalami ketidakpastian dengan kemungkinan terjadi deflasi. Kondisi itu dapat mempengaruhi investor membeli Emas sebagai investasi alternatif paling aman.